Rabu, 29 Agustus 2007

Chapter 33 - The Prince's Tale

Chapter 33
The Prince’s Tale
Kisah Sang Pangeran
Harry tetap berlutut di samping Snape, hanya menatapnya, hingga sebuah suara melengking dingin berbicara sangat dekat pada mereka, sampai-sampai Harry terlonjak berdiri, mencengkeram tabungnya erat-erat, mengira Voldemort telah kembali ke ruangan itu.
Suara Voldemort bergaung dari dinding, dari lantai, dan Harry menyadari bahwa dia berbicara pada Hogwarts dan daerah sekitarnya, agar penduduk Hogsmeade dan semua yang masih bertempur di kastil akan mendengarnya sejelas bila ia berdiri di samping mereka, napasnya di belakang leher, mengembuskan kematian.
“Kalian telah bertempur,” sahut suara melengking dingin itu, “dengan gagah berani. Lord Voldemort paham caranya menghargai keberanian.”
“Tapi kalian menderita kekalahan yang besar. Kalau kalian bertahan, tetap menolakku, kalian akan mati semuanya, satu persatu. Aku tak menginginkan ini terjadi. Setiap tetes darah sihir yang tertumpah adalah suatu kehilangan, suatu penghamburan.”
“Lord Voldemort bermurah hati. Aku perintahkan pasukanku untuk mundur sekarang juga.”
“Kalian punya waktu satu jam. Perlakukan yang mati secara bermartabat. Rawatlah luka-lukamu.”
”Aku berbicara sekarang, Harry Potter, langsung padamu. Kau mengijinkan teman-temanmu mati untukmu, daripada menghadapiku sendiri. Aku akan menunggumu selama satu jam di Hutan Terlarang. Jika di akhir masa itu kau tidak datang padaku, tidak menyerahkan dirimu, maka pertempuran akan dimulai lagi. Saat itu aku sendiri akan terjun di kancah pertempuran, Harry Potter, dan aku akan menemukanmu, dan aku akan menghukum tiap laki-laki, perempuan, maupun anak kecil yang mencoba menyembunyikanmu dalam waktu satu jam. Satu jam.”
Baik Ron maupun Hermione menggelengkan kepala dengan keras, menatap Harry
”Jangan dengarkan dia,” sahut Ron.
”Kau akan baik-baik saja,” ujar Hermione. ”Mari—mari kita kembali ke kastil, jika ia kembali ke Hutan Terlarang kita harus memikirkan rencana baru—”
Ia memandang sekilas pada jenazah Snape, lalu buru-buru kembali ke terowongan. Ron mengikutinya. Harry melipat Jubah Gaibnya lalu menatap Snape. Dia tak tahu apa yang harus dia rasakan, kecuali keterkejutannya atas bagaimana Snape dibunuh, dan alasan mengapa itu terjadi.
Mereka merangkak kembali melalui terowongan, tidak ada satupun yang berbicara, dan Harry ingin tahu apakah Ron dan Hermione masih bisa mendengar suara Voldemort berdering-dering di kepala mereka, seperti dirinya.
Kau mengijinkan teman-temanmu mati untukmu, daripada menghadapiku sendiri. Aku akan menunggumu selama satu jam di Hutan Terlarang ... satu jam ...
Gumpalan-gumpalan kecil mengotori halaman berumput di depan kastil. Mungkin hanya kira-kira sejam atau sekitarnya menjelang fajar, tapi keadaannya gelap gulita. Ketiganya bergegas melintasi pijakan batu. Sebelah bakiak, seukuran perahu kecil tergeletak di depan mereka. Tak ada tanda-tanda Grawp ataupun penyerangnya.
Kastil itu sunyi secara tak wajar. Tidak ada cahaya atau sinar, tak ada letusan, jeritan atau teriakan. Ubin besar di Pintu Masuk telantar ternoda darah. Batu-batu jamrud masih berserakan di lantai bersama potongan marmer dan pecahan kayu. Sebagian pegangan tangga luluh lantak
”Ke mana semua orang?” bisik Hermione.
Ron memimpin jalan ke Aula Besar. Harry berhenti di pintu.
Meja asrama lenyap dan ruangan penuh sesak. Mereka yang selamat berdiri berkelompok, tangan-tangan mereka saling berangkulan. Mereka yang terluka dirawat dipanggung yang didirikan Madam Pomfrey dan sekelompok sukarelawan. Firenze ada di antara yang terluka, panggulnya mengucurkan darah, gemetar di mana ia dibaringkan, tak mampu berdiri.
Mereka yang tewas dibaringkan berjajar di tengah aula. Harry tidak bisa melihat jenazah Fred karena dikelilingi keluarganya. George berlutut dekat kepalanya, Mrs Weasley melintang di dada Fred, badannya berguncang, Mr Weasley mengusap rambut Mrs Weasley, air matanya mengalir menuruni pipinya.
Tanpa bicara pada Harry, Ron dan Hermione menjauh. Harry melihat Hermione mendekati Ginny yang wajahnya bengkak, dan memeluknya. Ron bergabung dengan Bill dan Fleur, Percy mengalungkan lengannya di pundak Ron. Saat Ginny dan Hermione bergerak mendekati keluarga, Harry bisa melihat dengan jelas jenazah yang terbaring dekat Fred: Remus dan Tonks, pucat dan diam, nampak damai seperti yang sedang tidur di bawah langit-langit yang disihir gelap.
Aula Besar terasa lebih kecil, mengerut, saat Harry berbalik membelakangi pintu. Ia tidak bernapas. Dia tidak tahan melihat jenazah lain, agar bisa melihat siapa lagi yang mati untuknya. Ia tidak bisa bergabung dengan keluarga Weasley, tidak bisa menatap mereka, seandainya saja ia sudah menyerahkan diri, Fred tidak akan mati…
Ia berbalik dan lari di tangga marmer. Lupin, Tonks … keinginannya agar ia tidak bisa merasakan … ia berharap bisa merenggut jantungnya, bagian-bagian dalam tubuhnya, semua yang menjerit di dalam dirinya
Kastil itu benar-benar kosong, bahkan para hantu nampaknya bergabung berkabung di Aula Besar. Harry berlari tanpa berhenti, menggenggam erat tabung yang berisi pikiran terakhir Snape, ia tidak melambat hingga ia mencapai gargoyle batu penjaga kantor Kepala Sekolah.
“Kata kunci?”
“Dumbledore!” sahut Harry tanpa berpikir, karena Dumbledore-lah yang ingin ia temui, dan ia terkejut ketika gargoyle itu minggir, memperlihatkan tangga spiral di belakangnya …
Ketika Harry menghambur masuk ke kantor bundar, ia menemukan perubahan. Lukisan-lukisan yang tergantung di dinding kosong. Tidak satupun Kepala Sekolah tinggal untuk bertemu dengannya: semua, nampaknya, semua pergi, lewat lukisan-lukisan yang berjajar di kastil, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas apa yag terjadi.
Harry memandang tanpa harapan pada bingkai yang ditinggalkan Dumbledore, digantungkan tepat di belakang kursi Kepala Sekolah, lalu Harry membelakanginya. Pensieve disimpan di lemari seperti biasanya. Harry mengangkatnya ke atas meja dan menuangkan memori Snape ke dalam baskom lebar dengan huruf rune di sekitarnya. Keluar dari kepala seseorang mungkin melegakan ... bahkan apa yang ditinggalkan oleh Snape mungkin tidak lebih buruk dari pikirannya sendiri. Memori-memori itu berputar, putih keperakan dan aneh, tanpa ragu, dengan rasa nekat, berharap ini akan menenangkan kepedihan yang menyiksa, Harry terjun.Ia jatuh seketika di cahaya mentari, dan kakinya menemukan landasan yang hangat. Waktu ia meluruskan diri, nampak bahwa ia berada di taman bermain yang nyaris telantar. Sebuah cerobong besar mendominasi pemandangan. Dua gadis kecil berayun-ayun, dan seorang anak laki-laki kurus mengamati mereka dari belakang semak. Rambut hitamnya terlalu panjang dan bajunya tak sepadan sehingga kelihatan seperti disengaja: jeans yang terlalu pendek, mantel yang terlalu besar dan bulukan, nampaknya kepunyaan orang dewasa, dan sebuah kemeja pelapis yang aneh.
Harry bergerak mendekati si anak laki-laki. Snape terlihat berumur 9 atau 10 tahun, tidak lebih, pucat, kecil, kurus. Ada kerakusan yang tidak dapat disembunyikan di wajahnya yang kurus saat ia mengamati gadis yang lebih muda berayun lebih tinggi dan lebih tinggi lagi dari saudaranya.
”Lily, jangan!” jerit yang lebih tua.
Tapi gadis itu membiarkan ayunan berayun hingga ke titik lebih tinggi dan melayang ke udara, secara harafiah benar-benar terbang, melempar diri ke arah langit dengan tawa lepas, dan bukannya jatuh di aspal malah dia meluncur seperti pemain trapeze, tetap di udara terlalu lama, mendarat sangat halus.
”Mummy bilang jangan!”
Petunia menghentikan ayunannya dengan menarik tumit sandalnya di tanah, membuat suara berderit, melompat, tangan di pinggul.
”Mummy bilang kau tidak diijinkan begitu, Lily!”
“Tapi aku tidak apa-apa,” sahut Lily masih terkekeh, “Tuney, lihat ini. Lihat apa yang bisa kulakukan.”
Petunia memandang berkeliling. Taman bermain itu sudah ditinggalkan orang, kecuali mereka berdua, dan walau gadis-gadis itu tidak tahu, Snape. Lily memungut bunga jatuh di dekat semak-semak di mana Snape bersembunyi. Petunia maju, jelas terbagi antara rasa ingin tahu dan ketidaksetujuan. Lily menunggu hingga Petunia cukup dekat untuk melihat dengan jelas, lalu membuka telapak tangannya. Bunga diletakkan di situ, kelopaknya membuka dan menutup seperti tiram yang aneh.
”Hentikan!” jerit Petunia.
”Takkan melukaimu,” sahut Lily, tapi ia menggenggam kembang itu dan melemparnya kembali ke tanah.
”Itu tidak benar,” sahut Petunia, tapi matanya mengikuti kembang itu, ”bagaimana kau melakukannya?”
Petunia mengkerut dan berlari kembali ke ayunan, tapi Lily, walaupun terlihat bingung, tetap di tempat. Snape nampak menyesal telah mengagetkan mereka dengan kemunculannya. Ada semburat warna muncul di pipi pucat itu saat ia memandang Lily.
NB : Ini sekilas cuplikan terjemahan Chapter 33 - The Prince's Tale. Lanjutan kisahnya nanti akan aku post lagi lain kali... Tunggu ajah yawhz... !!!

Tidak ada komentar: